Skip to Content

Mencatat dan Journaling

Ingatan itu Terbatas

Di dalam menjalani hidup dengan segala aktivitasnya banyak sekali hal yang terlintas dan dialami. Sadar tidak sadar saya merasa sayang untuk melewatkannya. Teringat dengan kutipan dari Mas Ponang ketika dulu awal bekerja “tidak ada belajar yang percuma” dan Pak Vyor “ikatlah ilmu dengan menulisnya”. Iya juga ternyata benar kata Mas Chung “ya tidak semua bisa sekedar ingat, dicatat biar tidak lupa karena ingatan terbatas”.

Seringkali momen yang terlintas mungkin bisa jadi pembelajaran dan “maaf” terkadang jadi hiburan tetapi terlewat begitu saja. Masalah yang dihadapi juga sama, hari ini dialami tetapi terlewat karena aktivitas lainnya. Ilmu yang otodidak menjadi luntur dan perlu dicari kembali karena sudah lama tidak diterapkan. Segala rencana yang sudah disusun dalam kepala meluap karena terlalu banyak keinginan.

Tidak semua perihal harus menguap dan tidak semua harus diserap.

Di Maret kemarin puncaknya saya sendiri merasakan stress karena burnout otak organik terlalu banyak byte informasi yang diingat juga diproses, at the end malah tidak fokus. Ada masalah terulang tetapi harus mencari tahu lagi solusinya seperti apa. Rencana yang jauh-jauh direncanakan, di hari H tidak dieksekusi karena lupa. Petuah dari para senior benar, supaya tidak percuma harus diikat di dalam catatan.

Membaca artikel, Apple mengeluarkan aplikasi yang namanya Apple Journal untuk mental well-being. Idenya receh tapi gold yaitu menulis untuk offload isi kepala atau yang disebut brain dump. Tugas utamanya yaitu membebaskan memori kerja otak yang terbatas dengan memindahkan tumpukan pikiran ke atas kertas. Hal tersebut dapat mengurangi stres, meredakan kecemasan, dan mengembalikan fokus kembali tajam.

New Habbit, Catatan adalah Asset

Dari ide Apple Journal tersebut saya terpikir untuk menuangkan isi kepala dalam catatan. Tetapi memang harus dibagi ke beberapa bentuk agar tidak tercampur, tetapi bentuknya harus terstruktur juga agar tidak menjadi ribet sendiri apabila diperlukan untuk dicari kembali. Jadi saya memutuskan untuk membaginya menjadi ke beberapa direktori catatan, yaitu:

  • Private journal: isinya aktivitas harian dan takeaway, tentunya private karena semacam diary.
  • Private notes: isinya macam-macam catatan private yang generik, ilmu, rencana, sermon dari gereja, dan quick note untuk yang abstrak.
  • Office notes: isinya catatan kantor baik meeting, detail proyek termasuk rencana juga logsnya, dan quick notes yang tentunya ada di penyimpanan kantor.
  • Blog: isinya catatan yang ingin saya publikasikan, sharing is caring kan.

Tetapi berhubung Apple Journal adalah perangkat lunak proprietary Apple (termasuk Apple Notes) tentunya tidak menjadi pilihan untuk mencatat karena saya punya beberapa device non Apple seperti tablet Android pribadi dan laptop Lenovo kantor. Saya sempat menggunakan all-in-one note taking platform sekaligus blogging seperti Notion, tetapi banyak masalah editing dan format di Android, saya butuh yang universal yaitu Markdown.

Sebuah plain teks universal dengan format standar jadi dapat dibuka dengan editor apapun dan writing convention seragam tidak terikat pada suatu device. Sebuah teks yang paling dekat dan familar untuk profesi IT seperti saya. Saya sudah hijrahkan semua catatan dari Notion ke Markdown, termasuk blog ke Hugo yang akan saya posting juga kenapanya, dan mulai journaling selama hampir 2 bulan terakhir.

Saya sampai membuat template khusus untuk mencatat agar rapi, mudah dicari, dan mudah dipahami konteksnya at least oleh diri saya sendiri. Awalnya sangat malas, tetapi setelah mencoba selama seminggu lalu dua minggu mulai ketagihan. Dan sekarang merasa bersalah apabila melewatkan mencatat. Di kantor pun saya mengutamakan mencatat agar tidak lupa. Mulai dari rapat, perencanaan, dan eksekusi pun saya berusaha apapun itu harus dicatat.

Bagaimana agar efisien? Sampai sekarang tidak ada yang efisien pasti butuh effort. Jadi harus menyempatkan waktu, at least 30 menit hingga total ada 2 jam dalam sehari saya gunakan hanya untuk mencatat. Tentunya saya tidak dalam satu waktu hanya untuk mencatat, dibagi sesempatnya. Bahkan terkadang ketika baru sampai kantor, di LRT, di kantin dan di toilet hal yang saya lakukan adalah mencatat apabila senggang.

Untuk catatan pribadi termasuk journaling, rutin saya catat dari hal yang sederhana dan ketika sudah sampai di rumah sebelum tidur baru merapikannya sembari dibaca ulang.

Rasa takut lupa jadi modal utama saya untuk mengeksekusinya, jadi setiap weekend pun ketika ada waktu luang juga untuk mencatat. Ketika di gereja juga bersikap masa bodoh apabila dikira bermain smartphone padahal sedang mencatat sermon. Untuk membentuk kebiasaan baru ini juga saya menggunakan aplikasi note taking agar nyaman dalam mencatat dan membacanya. Tanpa tools berikut tentunya saya juga akan malas untuk mengetik Markdown.

Berikut aplikasi yang saya gunakan:

  1. Neovim dan Glow, saya gunakan di Termux tablet Android karena berbasis teks jadi dapat fokus untuk mengetik dan membaca, ringan juga jadi alasan utamanya.
  2. Obsidian, saya gunakan sesekali di tablet Android tetapi jadi aplikasi primer di iPhone bahkan saya hapus Apple Notes agar konsisten menulis di Obsidian.
  3. VSCode, saya gunakan rutin sebagai aplikasi primer di laptop Lenovo kantor dan MacBook pribadi dan satu-satunya aplikasi agar tidak perlu switch context ketika setelah koding harus melihat catatan.
  4. Apple Reminder dan Microsoft Planner, bukan untuk mencatat tetapi sebagai reminder saja sebagai pelengkap agar tidak lupa action item yang harus dilakukan.

Untuk sinkronisasi saya cukup dengan Git untuk blogging, network sharing untuk private, dan penyimpanan kantor untuk catatan kantor. Yang penting dapat berkesinambungan dan menciptakan workflow simple yang produktif. Semakin simple semakin produktif, harus yang familiar bagi saya. Misal Git dan network sharing tentunya sudah sangat dekat bagi saya yang berprofesi di bidang IT.

Taktis dan Ter-arah

Dengan workflow mencatat dan journaling, otak saya menjadi terasa lebih ringan. Kalau butuh dibaca, kalau setelah deep dive suatu tugas lalu harus mengerjakan hal lain agar nanti tidak lupa ya dicatat lalu segera lupakan. Dengan begitu beban kognitif menjadi jauh berkurang melalui siklus tersebut. Saya jadi dapat memikirkan banyak hal lain dengan cepat, switch context tidak lagi membuat emosi meluap.

Dengan membentuk template khusus, saya jadi terbiasa membreakdown suatu hal dan merunutkannya baik itu diskusi rapat, proyek, dan hal yang terjadi di setiap rutinitas. Menjadi tidak perfeksionis di awal dan perfeksionis di akhir untuk menstrukturkan konteks dan menghasilkan kesimpulan. Sejauh ini dengan pikiran menjadi ter-arah membuat mental dan well-being menjadi lebih baik, padahal awalnya merasa tidak ada yang berubah.

Semoga dengan mencatat dan membagikannya sebagian juga dapat menjadi berkat untuk orang lain khususnya untuk Jenar anak saya, tidak hanya bagi saya sendiri.